Ada yang bertanya, persis seperti judul email ini.

Kadika diam sejenak, dan menjawab, “apa yang ingin kamu sampaikan adalah yang penting.”

“Kok begitu, Kadika?”

Ya, karena apa yang mau kita tulis, kalau kita nggak pernah tahu apa yang ingin kita sampaikan?

Selayaknya berbicara, bukankah ketika kita ingin berbicara, mengungkapkan pendapat, kita baru bicara?

Menulis pun demikian.

Sepengalaman Kadika di awal belajar menulis konten, Kadika hanya tahu apa yang ingin Kadika sampaikan, maka dari itu mudah sekali untuk membangun kebiasaan menulis.

“dari mana aku bisa menulis, wong, aku kan baru mulai belajar, Kadika?”

Dari pengalamanmu, dari keresahanmu, meski kita belum banyak baca, tapi kita tetap bisa menulis apa pun yang kita rasakan.

Di email berikutnya, kamu akan dapetin insight kenapa content writer penting banyak membaca?

Yang menjadi masalah, terkadang kita sudah berekspektasi tinggi di awal, ingin tulisannya bagus, memukau, dan memikat.

Padahal itu bukan tahap awal, kalau kamu penasaran, cek deh dwiandikapratama.com/sitemap, pilih arsip tahun 2014, lalu bandingkan dengan 2024.

Apa yang kamu dapatkan setelah membukanya?

Menjijikan bukan tulisan Kadika di tahun 2014? Hahaha…

Jadi, agar yang sudah kamu ketahui di hari pertama ini, langsung tuangkan.

Jadi apa yang ingin kamu sampaikan dalam tulisan?

Jika masih bingung, jawab saja pertanyaan ini,

“apa bahagia versi mu?”

“dimana menulisnya, kadika?”

Ya, tulis di Word, Google Docs, atau kalau mau nulis di buku catatan juga boleh, nanti tinggal diinput ke Word atau Google Docs.

Selamat menulis.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

error: Content is protected!
Scroll to Top