Paradoks Penulis di Era Digital

Paradoks Penulis di Era Digital

Paradoks itu ibarat sikap yang serba salah, seperti judul film Warkop DKI “maju kena, mundur kena.”

Setiap zaman selalu punya tantangan terhadap Profesi Penulis. Kalau dulu, mungkin tantangannya adalah informasi terbatas, royalti tidak sebesar sekarang.

Kalau sekarang tantangan Penulis di Era Digital adalah terlalu banyak informasi, yang membuat Penulis sulit untuk fokus.

Tapi yang paling paradoks adalah Penulis ingin menyepi dari media sosial. Tapi masih ada rasa takut ketinggalan informasi dan kehilangan pembacanya.

Bagaimana kamu menyikapi semua ini?

 

Keinginan untuk Tetap Eksis

Kita sepakat media sosial yang membuat manusia modern agar tetap eksis. Begitu pun Penulis, agar tetap bisa bertegur sapa dengan pembaca, rasanya jadul kalau nggak punya akun media sosial. Iya?

Tapi…

Terkadang kebiasaan tak baik itu suka muncul, terlalu lama scrolling dibanding writing. Alhasil, perasaan udah terlanjur unmood untuk menulis. Kalau udah begini, siapa yang akan tanggungjawab?

Banyak di antara kita membandingkan diri dengan orang lain saat terlalu lama scrolling di instagram. Bukannya terinspirasi, malah rendah diri. Iya?

Apakah itu yang kamu rasakan?

Tenang kamu nggak sendirian, saya pun pernah merasakan demikian. Niatnya menjeda agar mendapatkan inspirasi, tapi ujungnya menyesal karena inspirasi itu tak kunjung datang.

Berselancar di medsos boleh-boleh saja. Asalkan prioritasmu sudah diselesaikan dan mesti diutamakan. Jangan dulu bukan medsos sebelum pekerjaan utamamu selesai, yakni menulis.

Woke?

 

Kebutuhan untuk Tetap Fokus

Menulis itu butuh fokus, butuh energi. Kalau fokusmu membayangkan liburan yang menyenangkan yang kamu lihat di instagram, ya fokusmu teralihkan.

Ada pun energi mulai menipis, karena kita terlalu banyak membandingkan diri dengan apa yang telah kita lihat di instagram.

baca juga: Bagaimana Menulis Buku Tanpa Gangguan? Kenali Pemicunya!

Kita akui, kalau kita butuh fokus untuk menulis. Walau hanya 30 hingga 60 menit dalam sehari. Sejujurnya menulis setiap hari nggak butuh waktu yang banyak. Asal konstan.

Jangan menulis sehari dengan durasi 2-4 jam, tapi besoknya malah rebahan dan perasaan gabut nggak karuan.

Lalu, bagaimana agar tetap fokus?

 

Milikilah Golden Time

Setiap penulis memiliki waktu terbaik atau golden time, dimana Penulis terbiasa mencurahkan isi ide dan pemikiran dalam waktu tertentu.

Ada yang mulai menulis 1 jam sebelum tidur, ada yang bangun tidur sebelum subuh lalu menulis, atau pagi-pagi setelah ngopi.

Pada jam berapa kamu merasa excited banget saat menulis? Nah, kalau bisa rutinkan, maka akan jadi kebiasaan. Ya, namanya kebiasaan, kita melakukan tanpa banyak berpikir lagi.

Seperti hal saya menulis ini. Terbiasa setelah sarapan pagi, saya langsung duduk di depan laptop dan mulai menulis.

 

Jadikan Menulis sebagai Rutinitas

Rutinitas akan membantu pekerjaanmu jauh lebih mudah dan ringan. Walau awalnya membosankan, itu jauh lebih baik daripada menguras energi lebih banyak.

Seperti kata Gretchen Rubin dalam Manage Your Day-to-Day “manfaat rutinitas diantaranya: menjaga ide kita agar tetap segar, mencegah datangnya tekanan, membangkitkan kreativitas, hingga melahirkan produktivitas.”

Siap ya?

 

Gunakan Prinsip Pareto 80/20

Ini adalah solusi mengatasi paradoks yang kamu rasakan. Fokuslah ke 20% prioritas yang menghasilkan 80%. Menulis, membuat konten, mendesain konten adalah 20% yang menghasilkan 80%.

Mengerjakannya mungkin nggak butuh waktu seharian, kalau kamu udah terbiasa dengan rutinitas itu. Jangan kebalik, socmed itu 80% menguras waktumu, tapi hanya menghasilkan 20% hasil atau mungkin hasilnya nihil.

Begitu, mudah-mudahan kebayang ya setelah membaca tulisan ini, mesti ngapain? Ya, susun prioritas dan mulailah menciptakan rutinitas.

 

Kebalikan dari FOMO

Kalau kamu masih takut ketinggalan informasi dan merasa tersiksa kalau belum dapet update, itu namanya FOMO (Fear of Missing Out) dan kebalikannya JOMO (Joy of Missing Out).

Itulah yang membuat kita terkadang sulit lepas dari internet dan mulai fokus menulis. Yang bisa kita lakukan adalah kebalikannya, yakni JOMO, dimana kita tetap happy walau ketinggalan informasi (yang katanya penting itu).

baca juga: Kenapa Jadi Penulis itu Pilihan, Mahir Menulis itu Keharusan?

Kenapa kita takut ketinggalan informasi? Karena kita berpikir dan merasa kalau informasi itu berharga dan penting, padahal nggak semua informasi mesti kita ketahui kok.

Fokus ke hal-hal yang bikin kamu tetap JOMO alias tetap merasa damai. Kondisi JOMO bisa kamu maksimalkan saat, membaca buku, berinteraksi dengan teman atau keluarga, atau sedang mindfulness.

Siap? Selain scrolling, kamu biasanya ngapain? 😀

Dwi Andika Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *