Belum Afdol Belajar Content Writing, Kalau Belum Melewati 2 Fase Ini!

B

“Perjalanan 1000 mil diawali 1 langkah pertama” ~ Lao Tzu

Siapa yang sekarang lagi build skill content writing?

Ada kabar enak dan kabar tidak enak, tapi semua ini baik untuk kamu.

“wah, apa tuh, Kak?”

Teruslah membaca, kamu akan tau 2 fase yang akan kamu lewati.

 

fokus menulis lebih banyak
Photo by Daniel Thomas on unsplash.com

Fase Banyak Menulis—fokus kuantitas

Di awal ketika kamu antusias banget buat menulis, apa pun yang kamu tau, dan alami, kamu akan tulis.

Kamu bisa jadi menulis setiap hari, dan memang sudah semestinya fase ini kamu lalui.

Untuk menjadi penulis atau mahir menulis, penting kamu memiliki kebiasaan menulis.

Ya, salah satunya adalah menulis setiap hari dengan konsisten, dan apa yang ditulis adalah yang paling dekat dengan kamu.

Mulai dari aktivitas kamu, pemikiran kamu, apa yang kamu alami hari itu, harapan kamu, atau mungkin masa lalu kamu.

Tapi, kabar tidak enaknya adalah tulisan yang kamu buat tidak berkualitas alias dangkal.

Tapi, itu nggak apa-apa, bukan masalah, karena ini adalah fase yang mesti kamu lewati agar mahir menulis konten.

Seiring berjalannya waktu, kamu mulai banyak membaca, mengamati konten tulisan dari content writer lain, hingga kamu upgrade skill ikut pelatihan content writer.

Kamu makin menemukan minat menulismu. Maksudnya, kamu makin tau apa saja yang akan kamu tulis.

Dan tentu saja kamu mulai berpikir, bagaimana kesenangan kamu menulis konten bisa menghasilkan uang, bahkan bisa memberikan sumber penghidupan—profesi.

Atau bisa menjadikan pendukung profesi utama kamu agar makin bernilai dan berpotensi naik jabatan.

 

Fokus lebih sedikit
Photo by Nubelson Fernandes on Unsplash.com

Fase Sedikit Menulis—fokus kualitas

Ketika kamu mulai mendapatkan jobs, kamu nggak akan kaget lagi, karena otot menulis kamu udah terlatih, udah terbiasa menulis.

Berbeda kalau belum ada kebiasaan menulis, kamu akan males mengerjakan project, rasanya berat sekali. Tapi, kalau kebiasaan menulis sudah terbentuk, kamu tau caranya antusias ketika menulis.

Kamu akan me-recall kembali perasaan itu, ketika mengerjakan project. Ada pun kamu juga akan menulis konten lebih berkualitas, tapi kabar tidak enaknya kamu tidak akan menulis setiap hari.

“kenapa begitu, Kak?”

Ya, karena untuk menulis yang berkualitas, kamu memerlukan referensi, riset yang mendalam, wawasan yang luas, hingga kutipan pendukung.

Mungkin kalau biasanya menulis konten 300 kata, ketika udah tau cara menulis, dan cara menulis yang berdampak, kamu akan menulis hingga 1000 kata dengan isi yang berbobot, kalau istilah netizen, “konten daging”.

Tapi, itu sepadan dengan kepuasaan yang kamu akan dapatkan, karena mereka akan cenderung menyukai “konten daging”.

Tapi, namanya fase, kamu nggak bisa langsung menulis berkualitas, kalau nggak sering menulis—fokus kuantitas.

Karena dengan sering menulis, kamu akan tau tulisan yang kurang bagus seperti apa, dan yang bagus seperti apa, ada perbandingan antara tulisan kamu yang pertama dengan tulisan yang ke-20 atau ke-50.

Jadi, kalau mau jadi penulis konten yang profesional, tahapan awalnya adalah mesti sering menulis.

Inilah kenapa content writer penting punya blog.

Jadi, sudahkah kamu menulis lebih sering dan lebih banyak?

About the author

Dwi Andika Pratama

Founder ImpactfulWriting® | Mentor CertifiedImpactfulWriter.com | Writing 33 Ebooks in 4 Years and Total Downloaded 35.000+

Add comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Discover more from ImpactfulWriting®

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading