Kenapa Disebut Content Writer Is The New Marketer?

K

“inti pemasaran adalah perubahan persepsi” ~ Dr. Joe Vitale on Buying Trance

Kamu ingin memiliki high-income skill?

Kamu ingin bisa bekerja dari mana saja?

Jika, “iya”, maka blogpost ini adalah jawaban yang tepat.

Ya, menjadi content writer adalah salah satu cara untuk meraih penghasilan besar.

“ah, masa iya, kak? Aku lihat freelance dibayar rendah, gimana tuh?”

Ya, mungkin ada yang memberikan penawaran jasa content writing dengan harga rendah,

…tapi percayalah, dunia ini memiliki hukum dualitas, yang mana memiliki dua sisi.

Menarik, ya?

Jadi, kalau ada yang bayar murah, artinya akan ada yang bayar mahal.

“Hmm, sepertinya menarik, lanjutin, Kak.”

 

Content writer penting bisa menulis selain menulis konten blog
Photo by Alejandro Escamilla on Unsplash.com

Content Writer yang High-income Nggak Sekadar Bisa Nulis Doang

Kalau sekadar bisa menulis konten doang, mungkin akan dihargai rendah, murah, tapi kalau kita punya skill dan value untuk membantu para pebisnis dan perusahaan, kita akan dipertimbangkan.

Maka dari itu, jangan sekadar bisa menulis konten di blog saja, tapi bisa untuk socmed, email, dan ebook.

“lho, kok begitu, Kak?”

Ya, karena semenjak pandemi hadir, profesi content writer makin menjamur, mereka yang menawarkan harga murah atau rendah, hanya bagian dari strategi marketing.

Bahkan strategi menawarkan harga murah, adalah strategi marketing yang sudah kuno. Hihi.

Maka dari itu, lengkapi skill lain untuk menambah value dari skill utama kamu, yakni content writing.

Kalau content writing untuk blog nilainya 1, untuk socmed 1, untuk email 1, untuk ebook 1. Jika dijumlahkan menjadi 4.

“ah, itu nggak riil, kak. Yang kontrit dong!”

Oke, siap!

Sekarang nilai content writing untuk blog 1 juta, untuk socmed 1 juta, untuk email 1 juta, untuk ebook 1 juta.

Kalau ditotal dalam jumlah uang, berapa?

Ya, kamu benar, Rp 4.000.000,-

Jadi, sepakat, ya?

Kalau mau bisa dibayar mahal mesti menguasai content writing selain untuk blog.

Untuk saat ini kalau masih tahap belajar, ya, kuasai content writing untuk blog saja.

“Tapi, Kak, kenapa mesti 4 media itu?”

Sepangalaman kami di dunia korporasi, 4 media itu untuk efektif untuk aktivitas marketing.

Inilah kenapa content writer is the new marketer.

 

Content writing butuh copywriting
Photo by Blake Wisz on Unsplash.com

Kenapa Content Writing Tetap Butuh Copywriting?

Kami memandang content writing ibarat air dalam tubuh, sepenting itu. Persis seperti tubuh kita yang memerlukan air sebesar 70%.

Karena tujuan dari content writing adalah mengedukasi dan mengubah persepsi.

Masih ingat apa yang dikatakan oleh Dr. Joe Vitale?

Ya, inti pemasaran adalah perubahan persepsi.

Cara terbaik untuk mengubah persepsi adalah melalui tulisan.

Bayangikan saja kalau mesti ngomong satu persatu ke orang, gempor banget, ya? Wkwkwk.

Itulah marketing konvensional, marketing zaman sebelum digital makin geriliya—masif.

Kalau lewat tulisan, kita menulis sekali, tapi bisa menjangkau ribuan atau bahkan ratusan ribu orang dalam sebulan.

Seperti kata Sayyid Qutb, “satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Namun satu tulisan mampu menembus jutaan kepala.”

Artinya kehadiran seorang content writer di era digital sangat diperlukan.

“hmm, masuk akal, makin greget buat jadi content writer, Kak!”

Ketika kondisi calon pembeli sudah terkondisikan lewat konten edukasi, hasratnya jadi naik untuk greget ingin beli.

Inilah yang maksud customer journey—funneling, yang awalnya nggak tahu, jadi tahu, hingga akhirnya greget buat beli.

Nah, kondisi greget beli ini hanya perlu diyakinkan dengan satu halaman—sales page—yang isinya benefit, alasan kenapa segera beli, dan ruginya apa kalau nunda.

Inilah yang disebut copywriting, kami memandang copywriting ini meski perannya 30% tapi perannya cukup besar, yakni mengonversi pengunjung menjadi pembeli.

Karena tujuannya adalah menarik perhatian dan meyakinkan—memersuasi—calon pembeli.

“kenapa mesti menguasai keduanya, Kak?”

 

Certified Impactful Writer = Content Writing + Copywriting
Photo by Kevin Bhagat on unsplash.com

Content Writing + Copywriting = Certified Impactful Writer 

Dalam dunia nyata, riil life, di perusahaan, kamu akan menemukan realita bahwa mereka akan merekrut seseorang yang bisa keduanya, alias bundling.

Bukankah kita suka banget kalau kita beli sesuatu itu bundling? Apa lagi perusahaan, bisa rekrut satu orang content writer bisa copywriting.

Karena bayangin, perusahaan membutuhkan satu sales page atau caption untuk iklan. Tapi perlu rekrut orang lain.

Mana mau mereka, sudah waste time, waste money juga. Mending maksimalkan yang sudah ada.

Cara agar kita dibutuhkan, menganut mindset yang memberdayakan dari Donald Miller dalam Business Made Simple, “membuat mereka beruntung ketika bertransaksi dengan kita.”

Artinya ketika mereka merekrut kita, mereka merasa beruntung sekali.

Ini juga yang kami terapkan ketika siapa pun yang join di Impactful Writing, dibikin merasa beruntung.

Lewat apa?

Ya, update modul terbaru.

 

Belajar marketing mulai dari mana?
Photo by Melanie Deziel on unsplash.com

Belajar Marketing Mulai dari Mana?

“Kita adalah pembeli pertama dari produk kita yang jual.” – Dwi Andika Pratama

Ketika kita melakukan pemasaran, juga kita sendiri sudah di level yakin dan excited ketika menjual produk itu.

Karena ketika kita sendiri kalau ada yang menjual produk itu, rasanya ingin beli.

Orang lain akan merasa hal yang sama dengan apa yang kita rasakan, seperti kata Dr. Joe Vitale dalam Hypnotic Selling Secrets, “Bagikan antusiasme kamu dengan target audiens; saat itulah penjualan terjadi.”

Amati ketika kamu membeli sesuatu, apa yang kamu rasakan, karena apa kamu membeli, jujur saja pada diri sendiri.

Inilah marketing dari hati ke hati agar kita bisa memasarkan dan menjual produk secara elegan dan dibutuhkan banyak orang.

“Sebentar, Kak, kok ada kata memasarkan dan menjual, apa bedanya?”

Oh, ya, marketing dan selling memang berbeda, tapi keduanya saling melengkapi, bahkan selling bagian dari marketing.

Kalau kata Henry Manampiring dalam buku terbarunya, Belajar Marketing Belajar Hidup, “Marketing itu PDKT dengan cewek. Selling itu ‘ngajak nikah’ cewek.”

Banyak di antara kita pengennya closing—menghasilkan banyak uang. Tapi enggan membangun hubungan.

Kalau kata Zig Ziglar, “stop marketing, start engaging. Stop selling, start helping.”

Impactful writer mesti bisa membuat audiens merasa beruntung ketika membaca tulisannya,

…juga membuat mereka merasa beruntung dengan penawaran yang ditawarkan.

“terus, bagaimana bisa menguasai 3 media selain content writing, Kadika?”

Nah, kita bahas lagi di kesempatan lain, ya?

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

About the author

Dwi Andika Pratama

Founder ImpactfulWriting® | Mentor CertifiedImpactfulWriter.com | Writing 33 Ebooks in 4 Years and Total Downloaded 35.000+

Add comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Discover more from ImpactfulWriting®

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading