fbpx
Inilah 4 Kepribadian Penulis + Bagaimana Cara Memaksimalkannya!

Inilah 4 Kepribadian Penulis + Bagaimana Cara Memaksimalkannya!

“Mengenal orang lain adalah kecerdasan, mengetahui diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati. Menguasai orang lain adalah kekuatan, menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati.” Laozi, Filsuf asal Tiongkok

 

Semakin kamu mengenal diri, semakin kamu mudah melalukan apa pun yang relate dengan kepribadianmu.

Salah satunya adalah menulis. Menariknya, ternyata kepribadian kamu relate banget dengan bagaimana cara kamu menulis.

Yang awalnya pusing mencari writing style kamu, dengan kamu memahami kepribadianmu, kamu akan menulis lebih mudah dan bergairah (excited).

Nah, apa saja 4 kepribadian penulis itu? simak sampai selesai, ya?

 

Kamu adalah Satu-satunya

Dari ke empat kepribadian itu ada kecenderungan yang paling dominan, entah sanguinis atau koleris.

Meski kamu berpotensi memiliki semuanya, tapi tetap ada satu yang sangat menonjol.

Karena “human is unique”. Kalau kata penulis buku Personality Plus, Florence Littauer “Hanya Ada Satu Kamu”

 

1. Si Pencerita (Sanguinis)

Sanguinis orang yang populer dan suka berbicara, antusias dalam menyampaikan ide, meyakinkan siapa pun yang berbicara dengannya. Makanya seorang sanguinis lebih cocok disebut Si Pencerita.

Tulisannya lebih banyak bercerita pengalaman dirinya sendiri atau orang lain. Sekali pun bukan sebuah cerita, dia akan buat menjadi cerita yang meyakinkan.

Saran untuk kepribadian sanguinis: berceritalah selayaknya kamu berbicara dengan orang lain, tularkan antusiasme itu dan tetap tenang ketika mendapatkan kritik.

Baca juga: Bagaimana Menjadi Content Writer di Perusahaan Meski Tanpa Apply?

 

2. Si Pendobrak (Koleris)

Koleris orang yang sangat percaya diri, independen, berani dalam memberikan pemikiran baru. Makanya seorang koleris lebih cocok disebut Si Pedobrak.

Tulisannya yang terkadang menuai kontroversi atau berbeda pandangan, selalu ingin berbeda dari pada umumnya, dan berisikan pemikiran yang berasal dari pengalamannya.

Saran untuk kepribadian koleris: lebih berani membagikan pemikiranmu dan tidak emosional menghadapi kritikan.

 

3. Si Perfeksionis (Melankolis)

Melankolis orang yang pendiam tapi sebenarnya isi kepalanya penuh dengan pemikiran.

Sedang mengira-ngira apa yang ingin ia sampaikan dan tuliskan. Karena mesti dilakukan dengan sempurna. Makanya seorang melankolis lebih cocok disebut Si Perfeksionis.

Tulisannya lebih puitis dan filosofis. Karena kemampuan berpikirnya yang mendalam itu bisa menghasilkan tulisan yang mengena di hati pembaca.

Saran untuk kepribadian melankolis: percaya dirilah terhadap tulisanmu dan kurangi banyak mikir.

Baca juga: Tetap Produktif Menulis Artikel Meski Sibuk, Ikuti 5 Langkah Ini!

 

4. Si Pendamai (Plegmatis)

Plematis orang yang terlihat lemah tapi sebenarnya ia rendah hati, sabar, dan mampu menenangkan orang lain karena empatinya.

Fokusnya perasaan damai dan bahagia. Karena tidak ingin adanya konflik, makanya kepribadian plegmatis lebih cocok disebut Si Pendamai.

Tulisannya akan lebih banyak tentang kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagian lewat empatinya yang mampu merasakan perasan orang lain. Dan fokusnya membahagiakan diri dan orang lain.

Saran untuk kepribadian plegmatis: jangan menulis yang menuai kontroversi atau menuai konflik karena itu akan mengganggu kedamaianmu.

 

Kesimpulan

Menariknya apa pun kepribadian kamu, kamu tetap bisa berkarier menjadi Content Writer profesional dan membangun karier melalui writing skill dengan mempelajari dan mendalami hanya di certified impactful writer.

Tiga formula impactful writing yang sudah teruji dan terbukti, membantu melejitkan kemampuan menulis kamu.

Karena sejatinya potensi menulismu sudah ada, hanya perlu dibangkitkan! Dengan mengenali kepribadian, menambah wawasan, dan terus latihan.

Jadi, kamu yang mana? Komen, ya? 🙂

 

Image: Photo by Amelia Bartlett on Unsplash

NB: Tulisan ini dibantu oleh hasil penelitian dari buku Personality Plus karya Florence Littauer

_____

Spesial untuk kamu yang ingin membuat kepribadian menulismu lebih maksimal, hanya melalui link ini kamu bisa ikut Certified Impactful Writer, hanya Rp. 2.999.000,- 299rb (normal web Rp. 329.000,-) tapi sangat terbatas!

11 Comments

  1. hai Kadika,

    yg terutama, sy kategori melo… yes sy overthinking, sy nulis jarang sekali jadi, ato selesai nulis lgsng post. pasti matang dulu di pikiran, stlh nulis, cek ricek lagi, sdh runut blm, spelling sdh ok blm, perlu emoji ga, emojinya sesuai ga, kira2 yg baca inspired ga? krn tujuan sy nulis spy org lain yg baca dapat insight.

    berikutnya, sy plegmatis. krn sy merasakan sendiri, ketika sy bikin status yg sifatnya menguatkan/memotivasi org, sy sendiripun jd terkuatkan/termotivasi.

    jadi, postingan sy seringan apapun pasti terselip kata2 filosofis atau penguatan, baik utk diri sendiri maupun utk org lain.

  2. Wah.. terima kasih banyak ka Dika atas share ilmunya Baru baca juga nih tentang tipe penulis di lihat dari kepribadiannya . Keren 👍
    Kalau saya dari dulu termasuk kepribadian yg introvert dan melankolis ka. Lebih merasa puas menulis sesuatu yg dapat membuat hati hangat. Seperti puisi atau kata-kata filosofis yg saya kembangkan ulang dari sudut pandang saya .

  3. Hai, Kadika. Kayaknya saya melankolis. Soalnya ketika melakukan sesuatu menuntut sempurna. Over thinking juga, padahal apa yang ditakutkan belum tentu terjadi. Saya memang kebanyakan mikir dan banyak pertimbangan. Malas juga. Dan, menulis pun masih mood” an. Jadi semua terkadang hanya sebatas ingin tanpa realisasi. Karena selalu mikir hasilnya, padahal belum berproses

  4. Iya kak, aku banyak mikir 😦 kayak merasa apa yang aku tulis tuh gak disukai pembaca. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tarik lg tulisan yang udah aku publish 😔😔

  5. Iya kak, aku banyak mikir 🙁 kayak merasa apa yang aku tulis tuh gak disukai pembaca. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tarik lg tulisan yang udah aku publish 😔😔

  6. Sudah pasti sanguinis :D. Krn memang tipe begitu yang lebih cocok buatku mas. Apalagi tulisan2ku semuanya ttg pengalaman pribadi, perjalanan dan kuliner. Jadi pasti lebih enak diceritakan dgn gaya bercerita :). Akupun lebih nyaman menulis dengan style storytelling dari dulu :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *