Kenapa 97% Buku Langsung Terbit Lewat Orang Dalam?

Kenapa 97% Buku Langsung Terbit Lewat Orang Dalam?

Menulis buku menjadi mudah kalau kita tahu cara dan hambatan yang menghalangi. Seperti di postingan sebelumnya, Bagaimana Menulis Buku Tanpa Gangguan? Gangguan sebenarnya adalah gangguan internal. Udah diberesin gangguannya? Kalau belum, baca deh. Lengkap.

Selesai menulis buku, mulai berpikir, “enak kali ya, punya kenalan orang dalem supaya bisa langsung nerbitin buku.” Boleh ngehalu, tapi realistis dikit ya? Hehe.

Mari kita bedah, kenapa penerbit major butuh proses untuk memeriksa tulisan kita dan kenapa 97% buku bisa langsung terbit tanpa ribet kalau kita kenal orang dalam?

 

Sibuk Mencari Orang Dalam

“eh, lu punya kenalan orang penerbit nggak?”,

“bisa kali nih, buku gue diterbitin di penerbit itu?”

Kita sibuk mencari orang dalam agar buku yang kita udah tulis segera rilis. Hmm. Apakah itu sah-sah aja? Nggak masalah kok, itu upaya kita untuk mewujudkan impian, bisa tembus di penerbit major.

Tapi…

Namanya manusia yang hanya fokus kepada kepentingan pribadinya, jangan sampe nama pribadimu tercoreng hanya karena kamu mengemis minta relasi untuk bisa menerbitkan karyamu.

baca juga: Bagaimana Penulis Menciptakan Penghasilan Sepanjang Tahun? Kenali 5 Sumbernya!

“ih, apaan sih ini, usaha dikit kek. Maunya instan aja!”.

Hati orang siapa tau kan?

Semua akan indah pada waktunya kok. Asal kamu nggak berhenti berjuang untuk menerbitkan buku di penerbit major.

Jangan rusak proses dalam mewujudkan impianmu. Mungkin dalam perjalanan menerbitkan buku ada pembelajaran yang nggak kamu dapatkan di kelas online menulis mana pun.

Dan…

Itu harta karun bagimu. Jangan karena ingin segera terbit dan berniat pamer “wey, buku gue terbit nih. Beli dong!”.

Pentingnya kita mencintai proses. Bagaimana proses buku terbit hingga kita memasarkan. Poin pentingnya setelah kita bisa menulis buku, kita juga mesti punya kemampuan memasarkan buku.

Bagaimana caranya? Kamu bisa pelajari digital marketing atau kalau ribet, ya, boleh ikut Penulispreneur.com yang materinya super lengkap.

Dalam prosesnya ada hal yang tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Mungkin tulisan yang menurut kita udah woke banget.

Tapi menurut penerbit major, belum sesuai kriteria mereka. Ada penerbit major yang baik banget, ngasih koreksian. Ada juga yang menolak terang-terangan. Terima aja.

Jadi, mesti sibuk ngapain dong? Baca terus, kamu akan menemukan jawabannya.

 

Lupa Membaca Banyak Buku untuk Referensi

“Untuk Bisa Menulis. Membaca Adalah Harga Mati Tak Bisa Ditawar Tawar Lagi” ~ Tere Liye

Tulisan yang bagus dan berkualitas lahir dari bacaan yang berkualitas juga. Fokuslah membaca untuk memperkaya isi dan wawasan kamu.

Semakin banyak membaca buku yang serupa seperti buku yang akan kamu tulis, secara nggak langsung menambah perspektif dan gaya bahasa penulisan.

Kita adalah apa yang kita baca. Sesederhana itu, semakin sering membaca buku yang serupa, tanpa sadar tulisanmu nggak jauh dari Penulis yang kamu baca.

Seolah-olah kamu sedang menyerap ilmu + pesan Penulis. Ada dua kategori dalam membaca, yakni membaca sebagai pembaca, membaca sebagai Penulis.

Pertama, membaca sebagai Pembaca

Kita fokus menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat, benar-benar menikmati apa yang dimaksud Penulis dalam buku itu.

Kedua, membaca sebagai Penulis

Kamu membaca untuk mempelajari apa yang dimaksud oleh Penulis, diksi yang dipilih, cara berpikir, sudut pandang yang dipilih, hingga bagaimana menyusun BAB, agar pesan yang sepenuhnya tersampaikan.

Jangan anggap remeh lho. Membuat BAB menjadi terstruktur itu nggak mudah, makanya butuh latihan dan mempelajari yang sudah berhasil.

Ada kalanya membaca seperti Pembaca, ada kalanya membaca seperti Penulis.

“lalu, bagaimana kita bisa tau buku itu berkualitas dan bergizi?”

Menurut Hernowo Hasim dalam Flow Di Era Socmed “cara menemukan buku bergizi, kamu membuka buku secara acak akan tetap mencerahkan”.

Terkadang kita suka iseng membuka halaman buku secara acak, kalau tetap mencerahkan, tanda buku itu bergizi dan berkualitas. Gimana? Udah mulai nyari buku yang berkualitas?

Mungkin sekarang kamu sedang menerka-nerka “buku apa yang ingin aku baca, agar tulisanku semakin mantap?!”

 

Lupa Mencari Bagaimana Menulis yang Berkualitas

“kuantitas jauh lebih penting dibandingkan kualitas” ~ Brili Agung

Dari kuantitas kita bisa tau tulisan mana yang berkualitas. Nggak ada yang berkualitas, kalau nggak ada kuantitas.

“maksudnya gimana sih?”

Semakin kamu sering menulis, semakin sering kamu merasakan perbedaan ketika kamu membaca tulisan kamu sebelumnya.

Kamu nggak bisa membuat tulisan yang berkualitas, sebelum kamu mengetahui tulisan kamu yang sebelumnya kurang begitu woke.

baca juga: Membuka 9 Pintu Rezeki dengan Menjadi Super Impactful Writer

Ada perbandingan. Bayangkan kamu menulis 50 artikel selama 50 hari. Mungkin artikel ke 50, akan jauh lebih baik dan bagus ketimbang artikel yang ke 1.

Kamu bisa menemukan tulisan terbaikmu karena kamu membandingkan tulisan kamu dengan tulisan sebelumnya.

Sampe di sini makin kebayang?

Makanya penting ketika belajar menulis, ada feedback, ada yang mengomentari. Sejujurnya yang berkomentar pedas di tulisanmu itu bagus. Kalau kamu menyikapinya dengan hati yang dingin.

Karena mereka menunjukkan yang sebenarnya. Hanya faktor kedekatan kamu aja. Bayangkan kalau orang terdekat kamu mengoreksi kamu, apa kamu akan marah?

Mungkin reaksinya nggak akan sakit hati, tapi malah seneng? Itulah komunikasi, faktor kedekatan  memengaruhi respon kita.

Jadi, tahu ya, sekarang mesti ngapain? Banyak latihan menulis, terus berproses, hingga akhirnya siap.

“eh, maksudnya kak?”

Nanti juga kamu akan tau di akhir ini. Woke siap?

 

Kepercayaan adalah Nomor Satu

Apa yang paling penting dalam bisnis? Ya, kepercayaan. Makanya kenapa Nabi Muhammad SAW. Diberi gelar Al-Amin alias terpercaya.

Perlu kamu ketahui, yang bukunya terbit pake orang dalam itu ada beberapa faktor. Jangan ngiri dulu.

Pertama, kapasitas dan kualitas Penulisnya udah mateng. Dari isi dan pribadi penulis udah meyakinkan dan dipercaya. Bukan sekadar Penulis karbitan. Kebayang kan?

Kedua, yang merekomendasikan Penulisnya, udah kenal banget. Biasanya sudah terjalin relasi, tau persis seperti apa orang yang direkomendasikannya itu.

Ketiga, buku yang ditulis lagi dicari oleh Pembaca. Topiknya lagi trending banget. Semuanya jadi win. Perusahaan WIN, dapet buku bagus. Pembaca WIN, ada yang menerbitkan buku dengan topik itu. Penulis juga WIN, karena karyanya diterbitkan juga.

Itulah kenapa 97% langsung terbit karena orang dalam? Karena kepercayaan, ada relasi sebelumnya.

Saya mengenal Penulis, sebelumnya belum menerbitkan buku, tapi karena rekannya udah menerbitkan buku. Keduanya kenal akrab, mudah bagi temannya untuk merekomendasikan.

Saya menyadari tulisan yang direkomendasikan oleh rekan Penulisnya itu, bagus, rapih, terstruktur. Woke banget deh. Wajar aja langsung terbit ketika direkomendasikan temannya.

 

Kesempatan Selalu Ada

Kalau kita udah siap, dalam arti kapasitas kita udah mendukung, nama baik kita di medsos juga cukup populer, punya follower deh intinya.

Jangan berpikir kesempatan nggak akan datang dua kali. Kesempatan itu selalu ada, hanya kitanya aja “siap atau nggak?”.

Sebagai bukti, ada penerbit major yang cukup sering membuka diri untuk mengizinkan Penulis yang memiliki naskah untuk berkonsultasi dengan editor mereka.

Kalau sudah cocok, bisa langsung terbit. Seandainya kamu belum ada naskah, apa yang mau diterbitkan?

Jangan tergesa-gesa, sebab, semua proses yang dilalui akan terasa nikmat, teruslah menulis agar kamu karyamu bisa diterbitkan dan memberi manfaat.

 

Tanamkan Identitas Penulis

Ada beberapa Penulis dan pastinya bukan kamu, yang merasakan rendah diri, ketika ada penolakan dari mana-mana.

Kamu mesti ingat baik-baik pesan ini:

“Penulis tetaplah Penulis. Tidak akan luntur dan hilang hanya karena ditolak penerbit, diabaikan, dikuncilkan, dibenci, bahkan tak dianggap sama sekali oleh keadaan atau seseorang. Kemuliaanmu tetap, selama dirimu terus #BerkataBaik dalam tulisan”

Jangan berhenti menulis karena alasan apapun. Selama bisa menulis, menulislah, niatkan apa yang kamu tulis, untuk kebermanfaatan dan kebaikan.

 

Setelah Ini Ngapain?

Jangan sibuk mencari orang dalam, sibuklah menjalin hubungan, menjalin relasi. Ingat bukan pansos (panjat sosial). Bukan ikutan mempopulerkan diri bersama orang yang kita kenal.

Menjalin relasi itu bagaimana kita bisa membantu, berkontribusi kepada seseorang. Abaikan kepentingan pribadi. Percayalah, kamu akan menuai, apa yang selama ini kamu tabur.

Ilmu menjalin relasi itu penting kamu pelajari, sebab, di sekolah nggak diajarkan bagaimana menjalin relasi.

Menjalin relasi, berbeda dengan menjilat. Kalau menjilat itu, berbuat baik tapi ada kepentingan pribadi yang kejar.

Kamu bisa menjalin relasi di seminar, di tempat publik, dimana pun, selama kamu berniat baik. Bahkan di grup komunitas pun juga bisa .

Menjalin relasi benar-benar tulus menjalin hubungan yang sehat. Saling berinteraksi, saling berkontribusi, tanpa mengharapkan bantuan kembali.

Ingat, yang membalas kebaikan itu terkadang bukan orang yang kita tolong. Tapi bisa jadi orang lain.

Sambil menjalin relasi, ya, terus mengasah keahlian menulismu. Hingga akhirnya kamu benar-benar siap.

Woke? Udah saatnya nih? Siap?

Dwi Andika Pratama

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *