Menjadi Koki Kata di Dapur Penulis (Sebuah Analogi)

Menjadi Koki Kata di Dapur Penulis (Sebuah Analogi)

Selamat datang di Dapur Penulis, dimana kamu adalah Kokinya. Ya, Koki kata. Mungkin sedikit agak mengerutkan dahi “apaan sih ini?”.

Sebelum kamu merasa bingung dengan tujuan dan maksud tulisan ini, coba pikirkan, mungkin ada yang masih bingung untuk menjadi Penulis.

Padahal jadi Penulis itu mudah sekali. Kalau tau caranya, kalau tau dapur di balik itu. Kita sering kali memuji tulisan seseorang, “wah, ini keren banget, enak dibaca tulisannya, dan mudah dimengerti”.

Tapi, pernah nggak berpikir, seperti apa di balik dapurnya? Gimana cara membuatnya? Bagaimana proses menulisnya?

Sebentar lagi kamu akan merasakan “oh, begini, kalau gini mah, mudah banget yak?”. Yuk, mari kita keliling ke dapur penulis.

Sebuah Perumpamaan

Di bagian selanjutnya mungkin kamu akan mendapatkan istilah koki, masakan, bahan baku makanan, cara penyajian, kemasan, ya, nggak jauh berbeda seperti di dapur pada umumnya.

Namun, semua itu hanyalah perumpamaan, pengandaian, agar kamu semakin mudah memahami. Betapa nikmatnya menjadi Penulis.

Misal, Koki itu sama seperti Penulis, memasak sama dengan menulis, bahan baku sama dengan referensi, penyajian sama dengan pengemasan, kemasan sama dengan gaya bahasa, dan yang paling menarik adalah perumpamaan tentang menghasilkan dari tulisan.

Kebanyakan dari Penulis yang belum paham masih idealis “ah, nulis mah nulis aja, ngapain mikirin penghasilan”.

Siap lanjut?

Koki Kata adalah Kamu

Selayaknya Koki yang memasak makanan menjadi lezat dan kaya rasa. Sebelum membuat dan menghidangkan makanan yang enak banget, tentunya kamu mempersiapkan berbagai hal.

Mulai dari resep, bahan baku terbaik, hingga teknis memasaknya. Udah kamu dapetin?

Begitu juga Penulis, kamu mesti banyak baca, memilih buku bacaan yang berkualitas dan bergizi, mempelajari bagaimana teknis menulis, hingga bagaimana menyajikan sudut pandang yang berbeda.

Pilihlah Bahan Baku Terbaik

Pentingnya memilih bahan baku untuk mengolahnya menjadi makanan dari bahan-bahan terbaik, agar benar-benar terasa lezat. Gunakan bumbu-bumbu yang disukai pembaca, yakni konflik pembaca.

Memilih bahan baku terbaik sama memilih buku yang berkualitas dan bergizi. Seperti kata Hernowo Hasim dalam Flow di Era Socmed “pentingnya memilih buku yang berkualitas dan bergizi, agar tulisan kita bisa seperti itu. Ciri-ciri buku bergizi dibuka di halaman berapa pun tetap menginspirasi”.

baca juga: Kenapa 97% Buku Langsung Terbit Lewat Orang Dalam?

Maka penting, kamu sebagai Penulis memiliki kebiasaan membaca, karena menemukan buku yang berkualitas juga skill, mesti dilatih, lama kelamaan kamu akan merasakan “wah bagus buku ini”.

Karena sebelum bisa mengidentifikasi buku bergizi, kamu mesti melakukan serangkaian teknis untuk mendapatkan buku bergizi dan berkualitas.

Seperti: memindai buku dari awal sampe akhir, membaca daftar isinya, lalu memindai perjudul dalam buku.

Kalau bahasa Malcolm Gladwell, Blink: Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir. Nah, itu, semakin sering kamu membaca, semakin mudah kamu menemukan buku berkualitas tanpa berpikir, seperti ada bisikan dalam hati “bagus nih”, yang kita sebut intuisi.

Kapan terakhir kamu baca buku?

Bagaimana Membuat Tulisan yang Enak Dibaca dan Kaya Rasa?

Selain kamu mendapatkan bahan baku terbaik dan berkualitas, kamu mesti mengetahui bagaimana membuat tulisan yang enak dibaca, lezat, dan kaya rasa?

Kita udah masuk bagaimana cara memasak. Koki, aktivitas utamanya memasak. Penulis, aktivitas utamanya menulis.

Kalau saja aktivitas utama ini bukan prioritas, apalagi alakadarnya, jangan berharap bisa menciptakan tulisan yang enak dibaca, lezat, dan kaya rasa.

Kenapa mesti membaca buku yang berkualitas dan bergizi?

Tidak lain dan tidak bukan kamu sedang belajar bagaimana membuat tulisan sama berkualitasnya. Ingat kan, kata Hernowo Hasim tadi?

Kamu juga mesti belajar bagaimana membuat tulisannya, ini lebih teknis, kamu bisa dapatkan dari pembelajaran atau yang sudah terbukti oleh Penulis lainnya.

baca juga: Membuka 9 Pintu Rezeki dengan Menjadi Super Impactful Writer

Ibarat Koki minta diajarin oleh Koki yang udah berhasil menemukan cara memasak yang enak banget.

Kamu nggak perlu percaya, hanya perlu melakukan apa yang disarakan. Bisa kamu rasakan bagaimana rasanya mendapatkan feedback seperti ini?

klik untuk memperbesar

Kalau kamu ingin belajar bagaimana menulis yang enak dibaca, mudah dipahami, saya merekomendasikan ikut Certified Impactful Writer.

Lengkap banget, dari mengatasi writer block yang terbukti ampuh, pemahaman tentang konten digital, hingga bagaimana cara nyari penghasilan.

Woke, iklan lewat yah? Wkwk. Lanjut nih.

Bikin tulisan yang enak dibaca menjadi lama karena kamu nggak tau gimana caranya, terlalu banyak yang dipikirin saat menulis. Padahal, nulis, ya nulis aja. Woke siap?

Gunakan Resep yang Sudah Terbukti

Ibarat baru belajar memasak, biasanya kita akan mengikuti step-by-step apa yang disarankan oleh resep itu. Walau hasilnya nggak langsung 100% sama, tapi tingkat keberhasilannya tinggi.

Begitu juga ketika kamu menyalin keahlian yang terbukti menghasilan tulisan yang enak dibaca. Nggak butuh bertahun-tahun bahkan 7 tahun lamanya untuk merasakan kegagalan.

Kalau mau bereksperiman juga boleh, bukankah lebih nikmat ketika udah tau cara benarnya? Kamu tinggal otak-atik aja sesuai keinginan kamu.

Mantap?

Beda Koki, Beda Rasa

Ketika kamu ingin meniru Penulis yang kamu sukai, kamu anggap keren banget tulisannya. Percayalah kamu nggak akan bisa menirunya 100%.

Ingat kan? Beda Koki, beda rasa. Walau resepnya sama, bahan bakunya juga sama, tapi yang membedakan masakan itu adalah bagaimana koki memasak dan menyajikannya.

baca juga: Ebook Meracik Konten Viral hanya 4 x 25 Menit Saja!

Sebab, memasak atau menulis adalah seni. Bukan ilmu pasti. Udah pasti berbeda, lalu kenapa mesti minder dengan tulisan kamu?

Bayangkan di luar sana sebenarnya ada Pembaca yang menanti-nanti tulisan kamu.

Kemasan dan Cara Penyajian yang Membedakan

Mungkin kamu bertanya-tanya, “apa sih yang bikin beda?”. Menarik sekali kalau ada yang nanya begini.

Kemasan itu bagaimana kamu menggunakan gaya bahasa dalam tulisan, nyaman nggak dibacanya? Ini faktor terpenting dalam membuat tulisan yang enak dibaca, lezat, dan kayak rasa.

Cara penyajian itu bagaimana kamu menghadirkan sudut pandang yang mencerahkan pembaca, atau menginspirasi?

Ada satu bahan baku yang bisa dimasak berbagai macam penyajian. Iya? Misal ayam, bisa digoreng, disemur, digulai, bahkan dipepes.

Sudut pandang berperan di situ, bagaimana pembaca semakin tertarik karena sudut pandang yang kamu berikan benar-benar bikin mereka “mind blowing” banget.

Cara dapetin sudut pandang yang unik, ya kamu mesti banyak tahu resep masakan alias kamu mesti banyak baca buku yang serupa, dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Gituuuu. Siap?

Koki tetaplah Koki, Penulis tetaplah Penulis

“Penulis tetaplah Penulis. Tidak akan luntur dan hilang hanya karena ditolak penerbit, diabaikan, dikuncilkan, dibenci, bahkan tak dianggap sama sekali oleh keadaan atau seseorang. Kemuliaanmu tetap, selama dirimu terus #berkatabaik dalam tulisan.” ~ Dwi Andika Pratama

Koki kalau udah masak, lalu masakannya mendapatkan feedback “wah, enak banget ini masakannya”. Bukan berarti Koki itu butuh pujian, justru masakannya enak karena hatinya ingin berbagi kebahagiaan melalui masakan.

Begitu juga Penulis.

Selama kamu terus menulis, menebar kebahagiaan dan kebaikan, kamu tetap Penulis. Terlepas di dunia luar kamu ditolak atau diabaikan seseorang dan keadaan sekalipun, kamu tetap Penulis.

Woke? Jangan pernah berhenti menulis karena alasan apapun.

Adakah Makan Siang Gratis?

Apakah Koki memasak dengan bahan baku gratis? Tentu aja nggak. Semua butuh modal, butuh uang. Tapi poin pentingnya bukan itu, uang hanyalah alat agar tetap bisa berbagi kebahagiaan.

Begitu juga Penulis, agar tetap bisa membeli buku berkualitas, bereskperimen, hingga bisa menciptakan tulisan yang enak dibaca, bahkan sangat inspiratif sekali semua itu butuh modal.

Koki pun bahagia bisa mendapatkan bayaran, yang menikmati masakannya juga senang, karena bisa menikmati masakan yang enak sekali.

baca juga: Bagaimana Menulis Buku Tanpa Gangguan? Kenali Pemicunya!

Penulis pun puas, karena bisa terus membeli buku dan menulis. Pembaca pun bahagia karena menemukan kenikmatan yang tiada tara.

Mari, kita bangun belief ini. Untuk bisa memberikan makan siang gratis pun butuh modal. Woke siap ya? Jadi Penulis Profesional?

Itulah kenapa tagline Impactful Writing – Kiblatnya Penulis Profesional. Harapan kami, ya, banyak dapetin insight dan berbagi pengalaman gimana cara menjemput rezekinya.

Dampak dari Tulisan yang Lezat, Enak Dibaca, dan Kaya Rasa

Apa yang kamu rasakan ketika makan masakan yang enak banget? Ketagihan, rekomendasikan, menanti-nanti hari selanjutnya agar bisa beli lagi, bahkan membelikannya untuk orang lain agar orang bisa merasakan rasa yang sama seperti kamu. Iya kan?

Begitu juga tulisan, kalau tulisan kita enak dibaca, dijamin pembaca ketagihan, rekomendasikan, membagikan agar merasakan hal yang sama.

Jadi, masih mau nunggu buat belajar gimana bikin tulisan yang enak dibaca?

Setelah Ini Apa?

Teruslah latihan menulis hingga lezat dibaca oleh siapapun. Bukankah kenikmatan tersendiri ketika bisa menyajikan tulisan yang enak banget untuk dibaca?

Join sekarang di certifiedimpactfulwriter.com, satu-satunya sertifikasi yang memberikan email bisnis gratis!

Email bisnis memberikan dorongan identitas untuk semakin profesional dan rasa layak. So, kalau bukan sekarang kapan lagi?

Join sekarang! Di sini.

Dwi Andika Pratama

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *