Kenapa Penulis Sebagai Pembelajar Seumur Hidup?

Kenapa Penulis Sebagai Pembelajar Seumur Hidup?

“Pada Dasarnya Semua Penulis Belajar Seumur Hidup.” ~ Ernest Hemingway, dalam Memikirkan Kata.

Ada yang merasa puas setelah bisa menulis, menerbitkan buku, menulis konten di blog, tulisannya tembus di media nasional, cerpennya diterbitkan di majalah, dan sekarang bermalas-malasan setelah semuanya tercapai?

Apakah begitu pekerjaan Penulis? Menulis hanya ada keinginan dan pekerjaan saja? Nyatanya nggak, menulis adalah hal yang mesti dilakukan sepanjang hidup.

Apa yang kamu sudah tulis dan meraih apa yang kamu inginkan, hanyalah dampak dari tulisan yang berkualitas, berbobot, memiliki perspektif yang unik, bahkan memiliki rasa saat dibaca.

Coba kamu pikirkan kembali, ketika di awal-awal, apakah menulis langsung meraih apa yang kamu inginkan? Tentunya nggak, ada proses.

Kamu belajar menulis dari buku, kelas menulis, hingga workshop menulis. Apa setelah itu, tulisan kamu langsung berkualitas? Tentu nggak juga.

Kamu mesti melatih keahlian menulis dengan banyak menulis. Apakah bisa langsung menghasilkan tulisan yang berkualitas? Lag-lagi nggak, kamu mesti banyak membaca buku agar tulisan kamu kaya akan wawasan dan pemikiran.

Apa tandanya?

Itulah yang dimaksud Penulis adalah Pembelajar seumur hidup. Kamu melakukannya sepanjang waktu sampe kamu merasa tulisan kamu berkualitas. Apa berhenti di situ aja?

Nggak juga…

Kamu akan terus mencari bagaimana menulis yang lebih berkualitas lagi, karena pembelajar nggak cepat puas dengan kondisi yang sudah dicapainya.

Bukan berarti nggak bersyukur, karena bersyukur, terus ingin meningkatkan keahlian yang sudah Dia berikan.

Karena menulis adalah seni, bukan ilmu pasti yang bila satu tambah satu sama dengan dua, tapi satu tambah satu bisa jadi tak terhingga, bila terus giat menulis dan membaca.

Lanjut? Yuk!

 

Kenapa Mesti Banyak Membaca?

“Membaca Buku yang Baik itu Bagaikan Mengadakan Percakapan dengan Para Cendikiawan yang Paling Cemerlang dari Masa Lampau.” ~ Rene Descartes

Ruang lingkup utama seorang Penulis adalah membaca dan menulis. Membaca membuat kamu kaya wawasan dan pemikiran. Menulis untuk meningkatkan pemahaman dari apa yang sudah kamu baca.

Dan…

Lagi-lagi semua butuh proses, ketika kamu menjadikan Penulis sebagai Profesi. Maka, hidupmu nggak jauh dari membaca dan menulis. Karena itu sebuah kenikmatan.

Berinvetasilah kepada buku seperti kata Austin Kleon dalam Steal Like An Artist “Kumpulkan buku, walaupun tidak langsung kamu baca. Buku-buku yang belum dibaca adalah asetmu.”.

Apa yang kamu keluarkan untuk membeli buku, ia akan kembali lagi kepadamu. Bagaimana bisa kamu ingin menebak bila tidak ada peluru? Karena kata-kata ada peluru.

Wawasan dan pemikiran hanya bisa didapatkan saat kamu banyak membaca buku. Karena seperti kata Rene, kita bisa mengetahui pemikiran-pemikiran orang terdahulu.

baca juga: Jamu Berkhasiat agar Kemampuan Menulismu Melesat

Seperti buku Napoleon Hill, Think and Grow Rich. Ada lagi Wallace Wattles, The Science of Getting Rich. Buku-buku itu hadir pada awal abad 20. Hampir seratus tahun yang lalu.

Banyaklah membaca dari topik yang kamu senangi, kelak kamu mendapatkan ide dan perspektif yang unik dari dirimu sendiri.

Kamu punya banyak sudut padang yang siap kamu tuangkan ke dalam tulisan. Gimana? Masih mau menunda untuk membaca?

Karena hasil dari membaca nggak bisa instan, butuh proses. So, kapan lagi kalau bukan sekarang?

 

Kenapa Mesti Banyak Menulis?

“Keterampilan menulis itu tak lantas membuat seseorang menjadi Penulis. Ia bisa menjadi apa saja, dengan logika berpikir yang teratur karena terbiasa menulis. Karena dengan menulis seseorang akan berpikir kritis dengan mengelola pikirannya secara kreatif.” Rhenald Kasali, Ph.D

Terlalu banyak membaca tanpa menulis, akan membuatmu bingung. Tuangkanlah ke dalam tulisan, maka kamu akan terkejut kalau yang selama ini kamu belum mengerti, mudah sekali kamu pahami.

Seperti kata Hernowo Hasim dalam Flow Era di Social Media, “Menulis Itu Berpikir. Menulis Itu Menyampaikan Pikiran.” Jangan dikira menulis yang berkualitas itu mudah. Hey! Semuanya butuh proses.

baca juga: Bagaimana Penulis Menciptakan Penghasilan Sepanjang Tahun? Kenali 5 Sumbernya!

Seperti kata Rita Roewiastuti dalam Memikirkan Kata, ada modal yang mesti Penulis miliki yakni kemampuan berpikir logis, sistematis lagi kritis, dan penguasaan teknik berbahasa tulis yang cukup.

Karena banyak membaca buku pun tak menjamin tulisan kamu berkualitas. Kamu mesti membiasakan berpikir logis, kritis, sistematis saat menulis.

Makin berhubungan dengan apa yang disampaikan Rhenald Kasali kan?

 

Kenapa Penulis adalah Pembelajar?

Karakteristik Pembelajar yang tak pernah puas dengan kondisi sekarang dan terus ingin berkembang. Makanya penting memiliki mindset yang tepat menjadi Penulis.

Salah satunya adalah berpikir bagaimana menghasilkan dari tulisan. Uang memang bukan segalanya dan segalanya butuh uang tapi uang bukan tujuan Penulis.

Layaknya Koki yang membutuhkan modal untuk membeli bahan masakan agar bisa memasak dan menghidangkan masakan yang enak nan lezat.

baca juga: 5 Rahasia di Balik Melejitnya Karya Mark Manson

Begitu pun Penulis, uang hanya alat untuk terus membeli buku dan menulis apa yang sudah dibaca. Karena tujuannya adalah berbagi kebahagiaan.

Nah, menariknya seperti Kata Joe Vitale dalam Awekened Millionaire. Karena dampak dari fokus membagikan kebahagiaan, itulah karakteristik miliuner sejati, uang akan datang sendirinya.

Karena pembelajar seumur hidup, kamu membutuhkan modal untuk terus membiayai hidupmu. Bahkan berinvestasi membeli buku. woke siap?

 

Mengajar dan Belajar

“Jika Pisau Diasah oleh Batu. Maka Manusia Diasah oleh Manusia.” Naqoy, dalam One Minutes Awareness

Ada kalanya belajar, ada kalanya mengajar. Hidup memang begitu. Bisa jadi kamu terinpisrasi oleh Penulis lain. Juga, orang lain terinspirasi karena tulisanmu.

Teruslah membagikan apa yang kamu baca, lihat, dengarkan, bahkan alami. Percayalah di luar sana ada seseorang yang sangat membutuhkan pemahaman dari tulisanmu.

Jadi, jangan pernah berhenti membaca dan menulis karena alasan apapun! Woke?

Dwi Andika Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *