Bagaimana Penulis Menghadapi Kritik? Inilah Cara Ampuh dan Anti Baper!

Bagaimana Penulis Menghadapi Kritik? Inilah Cara Ampuh dan Anti Baper!

Bagi penulis pemula diberi umpan balik oleh pembaca dan bermuatan kritikan, agak membuat berpikir banyak:

“apa salah gue?”

“emang gue salah ya nulis begitu?”

“ada apa sama tulisan gue?”

Apakah kamu pernah merasakan komentar pedas dari pembaca tulisanmu? Kalau “iya” itu tandanya kamu sedang berproses untuk naik kelas.

Tulisanmu akan semakin berkualitas saat kamu terus menulis, kalau kamu dikritik lalu berhenti menulis. Itu artinya kamu emang nggak siap menjadi penulis.

Karena dalam modul Penulispreneur, menjadi penulis itu mesti menerima paket secara utuh. Siap laris, siap juga nggak laris.

Seperti kata Imam Ghazali “untuk mendapatkan apa kamu sukai, kamu mesti melalui yang tidak kamu sukai”.

So, kalau kamu sia menjadi Penulis, maka siap pula untuk mendapatkan umpan balik selain pujian.

 

Kritik itu Tergantung Responmu

Kritik itu sendiri netral. Kita sendiri yang memberikan makna atas kritik itu. Tapi, namanya juga pemula ya? Terkadang lupa kontrol diri hingga jadi ikutan emosi.

Tahan, tenang…

Sebentar lagi kamu akan mengetahui cara ampuh menghadapi kritik agar terus berkarya tanpa memikirkan apa yang orang lain pikirkan.

 

Menulis adalah Berpikir

Banyak orang yang masih menyepelekan aktivitas menulis. “ah, gue mah menulis sekedar iseng aja”. Padahal menulis itu butuh konsentrasi, fokus, dan berpikir.

Coba deh kalau menulisnya asal-asalan, pasti hasilnya nggak karuan, entah kemana arah dan tujuan. Sebab, Ketika menulis kita berpikir bagaimana tulisan itu bisa dipahami dan runut.

baca juga: Apa itu Content Writer? Dan Kerjanya Ngapain?

Jadi, jangan sepelekan aktivitas menulis. Seperti kata Penulispreneur inti Penulis adalah Pengemasan. Dimana mengemas informasi menjadi lebih mudah dipahami, runut, dan enak dibaca.

Tapi bagaimana mengemas tulisan jadi penghasilan? Untuk itu bisa kamu pelajari dalam modul Penulispreneur.com

 

Pisahkan Diri dengan Karya

Kamu sadar atau nggak yang dikritik pembaca adalah tulisanmu, bukan dirimu. Jadi, kenapa mesti down atau baper?

Mungkin kamu memiliki asumsi “tulisan itu kan bagian dari kita?”. Ya memang, tapi yang dikritik bukan kamu, tapi tulisan kamu.

Maka, penting memisahkan diri dengan karya yang kamu tulis. Jangan melekat dengan apa yang sudah kamu tulis.

baca juga: 5 Alasan Kenapa Perusahaan Butuh Content Writer

Coba kamu bayangkan ketika kamu membuat bakso, tapi baksonya nggak bulat. Tapi ada orang yang berkomentar “baru belajar ya?”, “kok gini amat?”.

Kalau kamu menyadari apa yang mereka komentar bukanlah kamu, tapi karya kamu. Ini yang memberikan ketenangan.

 

Berkarya adalah Waktu Terbaik Penulis

Mungkin kamu juga pernah merasakan “kok gue bisa menulis seperti ini ya?”, ada perasaan tak menyangka kamu bisa membuat tulisan sekeren yang pernah kamu baca.

Kenapa?

Karena membuat tulisan itu adalah waktu terbaik Penulis. Dimana ide dan pembahasannya mungkin tak lagi sama ketika menuliskannya kembali.

baca juga: Jadi Content Writer? Mulailah Menjalani 4 Tahapan ini!

Mungkin ketika ada orang yang mengkritik kamu, kamu sendiri lupa apa isinya? Ya, wajar, karena menulis itu bukan untuk diingat. Menulis menumpahkan segala pemikiran ke dalam tulisan.

Sebab, ruang dalam pikiran juga terbatas, nggak bisa mengingat banyak hal. Tapi kita juga nggak ingin segera melupakan hal. Maka dari itu, kita menulis hal-hal terbaik yang pernah kita pikirkan dan rasakan.

 

Caranya?

  • Pisahkan diri kamu dengan karya tulisan. Mungkin ketika kamu menulis lagi on fire banget atau lagi nggak baik moodnya. Jadi, beda hari, beda juga kualitas karyanya.
  • Jangan mengaitkan diri dengan tulisan yang sudah kamu tulis. Lepaskan saja. Fokus mencipta tulisan lagi. Ada pun kamu melihat komentar tulisan bisa untuk ide berikutnya.
  • Bukankah sebuah keuntungan ketika bisa mendapatkan feedback secara blak-blakan. Lagi pula kita juga nggak tau mereka kan?
  • Mudah-mudahan kamu bisa anti baper dan down ya? Hehe.

 

Share ke Penulis lainnya ya? Agar manfaat ini tersebar luas.

___

Kalau kamu ingin belajar bagaimana menulis yang berdampak bisa ke sini.

Dwi Andika Pratama

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *