7 Langkah Mudah Menulis Copywriting yang Menjual!

7 Langkah Mudah Menulis Copywriting yang Menjual!

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang copywriting, coba Kamu jawab pertanyaan ini deh.

“Apakah Kamu berjualan untuk berbisnis?”

“Apakah Kamu ingin orang melirik dan tertarik dengan produk yang Kamu tawarkan?

Jika “YA” Maka sudah tepat Kamu membaca tulisan ini.

Apakah Kamu tahu apa itu Copywriting?

Copywriting adalah seni yang ditulis di dalam dunia penjualan dengan tujuan meningkatkan penjualan dan dapat mempengaruhi orang lain agar melakukan tindakan.

Menurut Copywriting manual, Copywriting adalah kata-kata persuasif untuk mengomunikasikan Pesan kepada Audience yang tepat.

Nah, dalam dunia online penghubung antara para pembeli dan penjual adalah melalui media tulisan, gambar, dan video.

Biasanya kalau dalam dunia offline, yang semuanya ajakan tatap muka, ada yang namanya salesman. Tetapi, dalam dunia online kegiatan penjualan tersebut tergantikan dengan adanya Copywriting.

Berikut Kamu akan diberi tahu langkah mudah Menulis Copywriting yang menjual. Yuk kita simak!

 

1. Visual yang Bagus akan Membutuhkan untuk Menjual Lebih

“Desain yang bagus akan membantu Anda menjual lebih banyak”

Kebayang nggak sih, kalau tulisan ini satu paragraf barisnya panjang banget. Pasti mumet, kan bacanya?.

Terkadang memang visual itu sangat dibutuhkan untuk menarik pembaca untuk membaca terus tulisan kita sampai akhir.

D engan tulisan yang berjarak dan satu paragraf tidak terlalu panjang, maka pembaca pun akan nyaman membacanya.

Secara umum, desain selalu menjadi media yang paling baik untuk meningkatkan konversi penjualan suatu produk.

Istilah bisnisnya, pengemasan ulang. Es teh, dengan kantong plastik bening cuma Rp 2000 maksimal.

Tapi, kalau diberi wadah dengan diberi label Starbucks misalnya bisa naik 5x lipat menjadi Rp 10.000, dan tentunya konsumen tetap membelinya.

Kenapa begitu ya?

Jawabannya adalah karena Kita paling senang dirangsang secara visual.

Visual bisa berupa gambar dan video namun paling efektif adalah mencoba semuanya.

Baca Juga : 15 Cara Menghasilkan dari Tulisan yang Terbukti Menambah Penghasilan

 

2. Keegoisan: Pembeli itu mementingkan dirinya sendiri

Kita itu mementingkan diri kita sendiri, bahkan dalam situasi paling gawat.

Contoh mudahnya, deh. Bayangin, kita lagi foto bareng rame-rame sama temen, setelah selesai fotonya, pasti kita ingin melihat hasilnya.

Dan sudah tahu dong apa yang terjadi? Yups! Kamu melihat diri kamu terlebih dahulu. Aku bagus gak ya fotonya tadi? Duh, aku gendutan nih!

Nah inilah yang dimanfaatkan oleh para pebisnis yang paham akan sebisa mungkin mencari cara menyebut bahwa konsumen itu adalah segalanya. Maka, sebisa mungkin mencari cara mencari rasa aman itu.

Apa sih keuntungan buat konsumen?

  • Beli rumah di kompleks ini aman, karena sistem RT-nya bekerja sama dengan warga sekitar seperti ronda.
  • Beli baju merek ini aman, Anda tidak akan ketinggalan zaman.
  • Beli pasta gigi ini aman, karena tidak mengandung bahan-bahan berbahaya dan pemutih yang dapat mengikis email gigi.

Untungnya adalah aman.

 

3. Mereka bukan menjual produknya, Tapi Menjual Emosi

Contohnya apa nih? Starbucks. Mereka menjual apa? Minuman? Kopi?. Apa cuma starbucks yang menjual kopi? Tapi, kenapa starbucks bisa menjual dengan mahal? 

Yups! Jawabannya adalah Starbucks tidak menjual kopi, tapi starbucks menjual emosi.

Emosi apa yang dijual oleh Starbucks? Kekuasaan, Afiliasi, dan Prestasi.

Yang berarti Starbucks jualan emosi untuk merasa kuat, terhubung layaknya ikatan darah dan emosi yang emosional.

Bingung? Oke, mari simak penjelasan ini.

Tahu gak kebanyakan orang kantor yang merasa sukses, pebisnis yang merasa sukses, akan mampir ke Starbucks untuk beli kopi di pagi hari untuk mengawali aktivitas mereka.

Sadar ya? Padahal mereka cuma “merasa sukses”. Belum tentu sukses beneran.

Nah, kalau Afiliasi? Kalau kamu sadar, setiap kita beli di Starbucks, setidaknya nama kita akan ditulis di wadah gelasnya.

Entah nama itu benar atau salah, itu sudah menarik emosi yang layaknya pertalian darah.

Kemudian ada Power. Atau merasa kuat. Starbucks berhasil menjual emosi para konsumennya dengan rasa kuat, ketika membeli Starbucks merasa lebih kaya, bisa membeli kopi mewah dibandingkan mereka yang cuma beli kopi di warung.

Tepatnya Starbucks berhasil menjual emosi kepada anak-anak muda yang baru saja bekerja. Tidak ada manusia yang mau derajatnya ada di bawah yang lain, apalagi direndahkan.

Untuk itu, tetapkan dulu emosi apa yang ingin kau sentuh dari konsumenmu, lalu kamu bisa jual emosi itu.

Baca Juga:  Apa Perbedaan Content Writer, Copywriter, SEO Writer, UX Writer, dan Content Marketer?

 

4.Buatlah Produk yang Kontras

Kita selalu bingung dihadapkan dengan kata “Terserah”.

Mau makan dimana? Terserah! Maka setelah kejadian yang tak ada jawaban itu, akhirnya mereka berakhir ke tempat makan yang tidak enak. Mereka akan menyesalinya, karena telah memutuskan di tengah-tengah.

Nah, sering nggak sih kalau sedang jalan-jalan di Mall, kemudian ada SPG yang nawarin kertas parfum yang wanginya paling kontras atau paling laris di toko parfum itu.

Mereka para SPG itu sebenarnya sudah melakukan hal yang kontras. Produk parfum dengan cara baru yang tidak perlu diketahui kita tidak bisa beroperasi dan bisa kita cium sambil jalan.

Ada pengalaman sebelum kita ditawari dan sesudah kita ditawari. Pengalaman aroma.

Sayangnya, rata-rata para SPG itu tidak proaktif. Maka itu tidak akan menarik minat pembeli untuk berhenti dan tanya produk tersebut.

Coba kalau pakai cara sebaliknya, dengan kata orang yang sudah mengambil kertas parfum itu, “Selain wangi itu ada wangi lain loh, bisa diambil kertas lainnya.”

Maka pihak akan kena penawaran tersebut. 

Mereka akan berhenti dan mencoba dan bertahan lebih lama untuk mencoba-coba aroma parfum yang disediakan disana.

Saat-saat seperti ini lah kita harus membuat hal yang kontras. Jangan sampai mereka, para konsumen berkata:

  • “Ah, biasa aja wangi parfumnya. Enakan juga di toko A. Ini mah biasa aja.”
  • “Duh, gak enak wanginya! Bikin enek.”

Maka hati-hati saat menawarkan produk. Semakin konsumen mampu mendapatkan momen WAH setelah mencoba produk Kamu, maka akan semakin mudah penjualan terjadi. Dan tentunya, mereka akan membesarkan produk kita kepada yang lain.

 

5. Data yang diberikan harus Konkrit!

100% penjualan akan terjadi di Internet karena Konsumen merasa “Dekat”

Eh, kata-kata siapa itu? Data dari mana? Ngawur ..

Tetapi, apakah kamu akan juga mengatakan ngawur kalau saya bilangnya, Jadi gini, ceritanya kamu mau beli sesuatu di pasar. Kemudian disitu, ada tombol chat atau diskusi dengan pembelinya.

Ya, kamu memilih diskusi dulu dong dengan penjualnya sebelum membeli. Terus, kamu ngobrol .. Eh, penjualnya responnya cepat! Apa yang terjadi? Ya, kamu beli di toko tersebut dari pada toko yang lain.

Kenapa?

Karena kamu merasa konkrit!

Kamu merasa nyata, kamu merasa penjual itu dekat, kamu memperhatikan masalahmu, kamu penjual itu tidak melulu jualan tapi untuk memahami apa maumu.

Baca Juga : Kenapa Penulis Sebagai Pembelajar Seumur Hidup?

 

6. Memikat di Awal dan di Akhir

Buat sesuatu yang sangat memikat di awal dan akhir. Buat sesuatu yang memikat di awal dan memikat di akhir. Maka transaksi akan lancar, semulus pantat bayi.

Sebentar … Ngasih awalnya bagaimana?

Kamu pernah datang ke showroom mobil atau pameran mobil? Apa yang Kamu ingat?

Pertama, Kamu akan mengingat SPG nya. Kedua, Kamu akan mengingat uang Kamu dari rekening yang berpindah ke formulir formulir.

Makanya kalau pertanyaannya menjadi seperti ini:

  • Siapa nama mantan pacar pertama dan terakhir kamu?
  • Sebutkan nama merk motor pertama dan terakhir kamu?

Dan dalam ilmu copywriting adalah konsumen paling malas disuruh mikir. Maunya disuapin, tapi nyuapinnya yang pas. Jangan ngotot di tengah-tengah. Suapin di awal, tagih bayar di akhir.

 

7.Kenali Konsumenmu

Konsumen dulu…

Konsumen lagi…

Konsumen terus…

  • Pahami dulu mereka sukanya apa.
  • Riset dulu konpetitormu itu kalau nawarin kayak apa.
  • Data dulu konsumenmu dari umurnya, pekerjaan, jenis kelamin.
  • Nawarin it use bahasa yang mereka pakai, jangan ngomong sama remaja pakai bahasa bayi.

Pokoknya terus riset. Konsumen aja fokusnya.

Bayangkan dari 7 ini saja, pandanganmu sudah terbuka. Maka inilah saatnya untuk praktek. Dan ide-ide baru mulai meluncur dengan deras.

 

Editor: Dwi Andika Pratama

Sumber gambar: pexels.com
Siti Syarafina Hasyim
Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *