Penghasilan Mandeg? Jangan-jangan 5 Sebab Ini Ada di Kamu

P

“Kalau mau menghasilkan banyak uang, belajarlah bagaimana cara menghasilkan uang, bukan baca buku fisika.”

Entah siapa yang mengatakan itu, tapi ada benarnya juga, kita banyak baca buku yang nggak ada kaitannya dengan uang, tapi berharap penghasilan kita bertambah.

Hmm, kata Einstein itu GILA.

“Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.”

Jangan kesinggung, itu Albert Einstein yang bilang, bukan Kadika. Wkwk.

Sepengamatanku kepada diri sendiri dan orang lain yang mengalami stuck, ada 5 hal.

Kadika pernah merasa mendapatkan 1 juta itu nggak mudah.

Ya, wajar sih, karena baru lulus SMA, apa yang bisa diupayakan, iya?

Karena saat itu belum tau ilmunya.

Sekarang? Alhamdulillah, cukup. Hehehe.

Nah, ikan sepat, ikan lele.

Lebih cepat, tidak bertele-tele.

Apa saja 5 sebab penghasilan mandeg atau stuck?

 

Tidak mengembangkan soft skill dan hard skill
Photo by Daniel Chekalov on Unsplash.com

 

Pertama, Tidak Mengembangkan Soft Skill dan Hard Skill

“Now, skill is the currency in company, no skill, no salary.” 

Keduanya sangat penting, menurutku skill itu ‘mata uang’ yang diperlukan di dunia kerja, tanpa skill, ya, mana mau mereka gaji kita.

Mengacu dari perkataan prof. Rhenald Kasali dalam Disruption, “Zaman sekarang nggak akan ditanya, ‘lulusan mana?’, tapi ‘kamu bisa apa?’.”

Boleh jadi penghasilan mandeg itu, karena soft skill kita nggak mendukung untuk menghasilkan penghasilan lebih besar dari sebelumnya.

Seperti komunikasinya buruk, inisiatifnya rendah, ego sentris, kontrol emosinya buruk, dsb.

Terus untuk hard skill-nya cuman bisa mengoperasikan Ms. Office, yang mana ini skillset 14 tahun yang lalu, kalau sekarang?

Ya, kalau sekarang lebih didominasi digital, karena no digital, die. Atau bisa juga diartikan ‘mati’, karena nggak ditemukan oleh audiens di internet.

Penting untuk upgrade skill, misal digital marketing, meski terdengar biasa saja–karena udah familier–ini skill yang memerlukan skill lain lho.

Seperti content writing dan copywriting, karena inti konten adalah tulisan, dan inti digital marketing adalah konten.

Content writing itu meliputi blog, socmed, email, bahkan ebook, copywriting menjadi pemanis dari konten yang udah dibuat. Lebih tepatnya melengkapi content writing agar lebih maksimal aktivitas digital marketingnya.

So, pastikan memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan, karena nggak guna mengutuk apalagi mengeluh “susah banget nyari kerjaan yang penghasilannya lebih tinggi dari sebelumnya.”

Ya, iyalah, kalau mau naik penghasilannya, ya, mesti naik juga kapasitasnya.

Karena belajar aja nggak cukup, praktek juga nggak kalah penting dalam belajar.

 

Menemukan yang Mahal dari Dirimu
Photo Nadiia Shevchenko on Unsplash.com

Kedua, Tidak Berusaha Menemukan yang Mahal dari Dalam Diri

Kamu tau yang mahal dari dirimu?

Ya, bakat yang udah terasah.

Mungkin tanpa kamu sadari selama ini udah melakukan sesuatu yang menurut kamu enjoy banget, atau yang orang lain anggap kamu hebat di bidang itu, tapi kamu mengabaikan itu.

Logikanya, apa yang mau dikembangkan, kalau kita nggak tau potensi yang pengen kita kembangkan.

Inilah penting self-awareness dulu, baru self-improvement.

Bekerja sesuai bakat, akan memberikan dorongan lebih besar, dibandingkan nggak berdasarkan bakat, ini pengalamanku aja. Boleh setuju, boleh nggak.

Karena ada seorang pakar Stephen R. Covey berkata, “investasi terbaik adalah pada diri sendiri, karena kemajuan berawal dari pengembangan diri—self-improvement.”

Ini berasa banget buatku yang ketika tahun 2014 tes kepribadian dengan metode STIFIn. Terus berlanjut ke MBTI, dan yang terakhir Talents Mapping.

Karena bagaimana kita ‘jalan’ jauh ke dalam, kalau kita nggak punya penerangnya—pengetahuan tentang diri?

Karena kamu akan merasakan kerugian 5 hal kalau nggak tes bakat.

Lanjut, ya?

 

Memiliki Kemampuan Menjual
Photo by Austin Distel on Unsplash.com

 

Ketiga, Tidak Memiliki Kemampuan Menjual

“Kita semua adalah penjual (salesperson), atau paling tidak seharusnya begitu, tak peduli apa bentuk jasa yang kita berikan atau jenis barang yang kita tawarkan.” – Napoleon Hill on Selling You

Menurutku perubahan yang paling terasa ketika belajar pengembangan diri, adalah masuk ke dunia penjualan.

Jualan apa pun itu, karena setiap diri kita adalah penjual, tanpa disadari atau tidak, apa pun bentuknya, kita melakukan aktivitas menjual.

Latihlah kemampuan menjual ini, karena apa pun yang kita miliki, kita bisa mengubahnya menjadi uang.

Bahkan pekerjaan atau profesi dengan penghasilan tertinggi adalah sales.

Mungkin mendengar kata “sales”, jadi alergi, ya? Hmm, tapi bagaimana dengan “copywriter“?

Mungkin merasa prestige, bergengsi, dan pride aja gitu, iya?

Padahal esensi copywriter itu adalah menjual, persisnya menjual dengan tulisan.

Seperti kata Robert W. Bly dalam The Copywriter’s Handbook, “copywriting itu bukan untuk mendapatkan awards, menghibur, dan pujian, tapi untuk menjual.”

Kenapa bisa tinggi?

Pertama, mendapatkan banyak penjualan dari produk yang ia jual.

Kedua, mendapatkan bayaran tinggi, karena udah menghasilkan penjualan dari copywriting yang ia buat.

Fair dong?

Nggak logis aja, kalau pengen menghasilkan penghasilan besar, tapi nggak bisa mendatangkan pemasukan yang besar juga buat perusahaan atau brand.

Bahkan kata Dewa Eka Prayoga, di salah satu reelsnya, “jualan itu bagian dari bisnis. Tapi bisnis itu sendiri nggak hanya jualan.”

Tapi yang pasti kalau nggak jualan, ya, nggak ada cashflow. Perusahaan kecil hingga besar, melakukan selling kok, cuman beda caranya aja.

 

Menetapkan standar rendah
Photo Jason Goodman on Unsplash.coom

 

Keempat, Menetapkan Standar Rendah

Bagaimana bisa melewati level 10 kalau berpikir level 5 aja udah puas. Kebayang maksudnya?

Bagaimana bisa menghasilkan penghasilan lebih besar? Kalau dengan menghasilkan 5 juta aja sudah merasa cukup.

Memiliki target itu penting, cuman tetap realistis untuk terus belajar. Karena kita akan tergerak menuju tujuan kita.

Karena Brian Tracy mengatakan dalam The Psychology of Selling,target tinggi atau rendah, tetap berpotensi tidak tercapai.”

Daripada target rendah nggak tercapai, mending target tinggi tercapai, iya? Wkwk.

“ah, gimana sih Kadika, semua orang juga pengen gitu.”

Ya, setidaknya ketika nggak tercapai, minimal banget gede gitu, lho.

Kalau target 5 juta aja, tercapainya 3 juta. Ya, kemungkinan menetapkan target 10 juta, bisa aja tercapainya 7 juta. Gitu lho maksudnya. Hehehe.

Target boleh tinggi, tapi yang penting adalah action kita jelas dan terukur.

 

Rendah inisitaif
Photo by Ethan Elisara on Unsplash.com

 

Kelima, Inisiatif Rendah untuk Belajar Bagaimana Meningkatkan Penghasilan

“inisiatif adalah ‘mata uang’ yang tinggi nilainya.” ~ Pandji Pragiwaksono

Mungkin pernah denger atau tau, “penghasilanmu tergantung 5 orang terdekatmu”, ini omong kosong, seriusan.

Kenapa?

Kalau kita punya temen deket yang penghasilannya lebih besar dari kita, tapi kita nggak meniru cara berpikirnya, cuman sekadar haha-hihi aja.

Hmm, rugi banget.

Karena faktor yang menyebabkan kita punya penghasilan besar, adalah cara berpikir yang mendukung dengan tujuan kita, yakni penghasilan besar.

Tanya aja bagaimana cara mereka memandang uang, bagaimana mereka serve orang lain, bagaimana cara mereka mengatur keuangan.

Asal jangan tanya gaji atau penghasilan aja, wkwkwk.

Kalau kayak gini aja kita gengsi, ya, gimana mau naik penghasilannya. Wong, kita nggak tau cara berpikr berkemlimpahan itu gimana.

Atau minimal belajar bagaimana uang itu datang, deh, minimal banget belajar yang relate dengan tujuan kita, bukan malah belajar fisika.

 

bertanggung jawab 100%
Photo by Engin Akyurt on Unsplash.com

 

[BONUS] Keenam, Tidak Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Tau nggak apa poin pertama dari 100 tips pengembangan diri dari Jack Canfield dalam Success Principles?

Ya, “bertanggungjawab 100%.”

Kamu tau, apa ciri-ciri orang yang nggak bertanggungjawab?

Ya, mudah menyalahkan orang lain, fokus pada kendala, hambatan, padahal bukan itu fokus kita.

Fokus kita adalah bagaimana meningkatkan penghasilan yang udah ada.

Kata Dr. Joe Vitale dalam The Abundance Paradigm, terjemahannya gini, “kamu nggak akan bisa berdaya, kalau masih menjalani sebagai korban.”

Ya, mental korban itu fokusnya nyari ‘kambing hitam’, siapa yang harus disalahkan atas yang terjadi dalam hidupnya. Bukan fokus ke gimana solusinya. Hehehe.

 

Apa Setelah Ini?

Untuk menghasilkan uang itu ibarat latihan membentuk otot, meski bukan orang yang pernah sixpack, tapi melihat proses otot dibentuk, persis seperti kita menaikkan penghasilan, butuh proses.

Mungkin awalnya menghasilkan 2 juta, 3 juta, lalu 5 juta, hingga akhirnya impian kamu tercapai.

Jangan pelit pada diri sendiri untuk belajar, meluangkan waktu untuk membaca, mengalokasikan uang untuk belanja buku, ikut kelas yang relevan dengan tujuan.

Karena uang yang kita keluarkan akan kembali pada diri kita, kok. Kalau kita prakteknya dengan sungguh-sungguh.

Semoga tulisan ini bisa memberikan kesadaran bahwa untuk menambah penghasilan, diperlukan kesadaran dari dalam, dan berawal dari diri sendiri.

Namun, ingat, semua buku, pelatihan, kelas, mentor adalah sarana untuk mencapai tujuan.

Karena sepenuhnya adalah tanggung jawab pribadi untuk meraih itu. Berhentilah menyalahkan orang lain, keadaan, atau apa pun.[]

About the author

Dwi Andika Pratama

Founder ImpactfulWriting® | Mentor CertifiedImpactfulWriter.com | Writing 33 Ebooks in 4 Years and Total Downloaded 35.000+

Add comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Discover more from ImpactfulWriting®

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading