Sudah Ikuti Cara Menulis, Tapi Masih Hadapi 5 Hambatan Ini?

Sudah Ikuti Cara Menulis, Tapi Masih Hadapi 5 Hambatan Ini?

“Duh, kayaknya ini nggak banget deh!” Kemudian menekan tombol backspace.

Kamu sering melakukan itu gak kalo lagi menulis?

Meski kamu sudah khatam dan belajar banyak cara menulis supaya menghasilkan tulisan berkualitas, tapi hambatan pasti pernah menghampiri setiap penulis.

Baik hambatan internal maupun eksternal. Mulai dari yang ringan sampai yang levelnya sangat menyusahkan.

Jangan sampai kamu menyepelekan hambatan internal, karena kalau tidak diatasi dengan baik, bisa jadi itu penghalang paling besar untuk menaikkan skill.

Bisa jadi alasan, “mager bentar gak papa, deh.” Ini memicu hambatan lain yang terus melebar.

Nah, di mana pun kamu membaca ini, coba deh resapi, pahami dan pikirkan. Apakah hambatan-hambatan ini yang menyebabkan kamu jadi kurang produktif?

Setelah kamu tahu sebenarnya apa hambatan internalmu maka bertindaklah segera untuk mengatasinya.

Sekarang, yuk coba cek pada diri sendiri dulu apakah 5 hambatan ini ada di dalam dirimu?

 

#1. Mood yang Labil

Hari ini, mungkin kamu sedang merasa sedih jadi kamu bisa lancar menulis syair galau, atau hal lain yang menguras emosi.

Sehari kemudian kamu habis ketemu doi. Karena lagi bahagia banget, kamu semangat menulis hal yang bikin hati berbunga-bunga.

Tapi gimana kalau tiba-tiba gak mood sama sekali untuk menulis? Pernah mengalaminya, atau sekarang lagi merasakan hal serupa?

Padahal, kamu sudah niat mau rajin menulis seperti yang diajarkan panduan dan cara menulis. Kamu sudah bertekad mengasah kemampuan menulis.

Eh, mendadak mood berubah drastis sampai bikin niat dan tekad kuatmu kendor seketika.

Kamu punya niat kuat untuk menjadi penulis profesional, baiknya kamu mulai belajar mengendalikan suasana hati. Bukan sebaliknya, mood yang mengendalikan kamu.

Misalnya dengan memberikan sedikit waktu untuk dirimu me time, melakukan hal yang kamu suka. Atau dengan memberikan reward kecil saat berhasil menyelesaikan tulisan.

Baca juga: 16 Keahlian yang Mesti Mahasiswa Kuasai agar Sukses di Dunia Kerja!

 

#2. Dikit-Dikit Malas

Masih ada hubungannya nih dengan poin pertama. Akibat mood yang tidak stabil lalu memicu rasa malas. Kamu merasa malas banget untuk menulis.

Padahal malas itu bisa menjadi penghalang kamu untuk berkembang dan lebih kompeten dalam menulis.

Percuma bukan, kamu sudah banyak ikut webinar cara menulis kalau setelah dapat ilmunya justru kalah dengan rasa malas.

Kamu harus segera temukan segala penyebab rasa malas, untuk memudahkan kamu mengatasinya.

Misalnya begini, kamu jadi malas menulis karena memang gak punya ide sama sekali. Maka yang harus kamu lakukan adalah memperbanyak bahan bacaan dan referensi.

Salah satunya dengan mengikuti perkembangan topik yang sedang ramai di media sosial untuk kamu dalami jadi bahan tulisan.

Selain itu, solusi mengatasi rasa malas menulis adalah dengan menulis itu sendiri.

Jujur pada diri sendiri, tulis saja apa yang sedang kamu rasakan. Baik rasa sedih, kecewa, sebal atau bahkan frustrasi. Ungkapkan saja lewat tulisan.

Berangkat dari keluh kesah yang tidak terungkap, bisa saja itu yang memunculkan banyak ide-ide menulis.

Selanjutnya kamu bisa membuat ‘bank ide’ dalam aplikasi notes ponsel untuk menyimpan ide menulis itu agar tidak menguap.

Satu hal, jangan biarkan bank idemu terlalu lama mengendap, segera eksekusi dengan menerapkan tata cara menulis yang sudah kamu pelajari.

 

#3. Mudah Ter-distract

Hambatan menulis yang gak kalah seram adalah,  ketika ada notif kamu auto lirik ponsel. Mau nulis, scrol-scrol timeline media sosial dulu. Idol k-pop live IG auto nonton. Lupa dengan niat awal hendak menulis.

Lalu kamu merasa setiap mau menulis gangguan datang bertubi-tubi. Dan kamu mengutuk keadaan ini.

Nah, kamu harus mulai belajar mengendalikan diri. Membagi waktu kapan harus menulis, kapan bermain sosial media dengan membuat jadwal kegiatan harian.

Misalnya dengan menyisikan waktu menulis 1 jam per hari. Singkirkan gadget, gunakan waktu itu sebaik mungkin untuk menulis dengan fokus penuh.

Atau, kamu bisa batasi bermain media sosial maksimal 2 jam sehari supaya tidak mengganggu produktifitas dan kualitas konten copywriting-mu.

Sebagai calon penulis profesional, dan kalau kamu sudah mempelajari banyak cara menulis tapi kamu tidak bisa disiplin hasilnya akan sulit untuk lebih maksimal.

Sudah tahu kan, cara menulis paling efektif dimulai dengan kebiasaan membaca dan menulis yang dilakukan setiap hari.

Sekarang kamu hanya perlu melakukan jadwal kegiatan harianmu dengan disiplin. Ingat ya, disiplin.

Selama kamu sudah punya tekad yang kuat, seharusnya apa pun gangguannya kamu akan tetap tenang seolah hanya angin sepoi-sepoi lewat saja.

Baca juga: Lupakan Copywriting, Mulailah Menulis

 

#4. Terlalu Perfeksionis

Pernah gak kamu sudah dapat ide menulis ,sudah membuat outline juga, tapi saat mulai menulis kamu tidak kunjung dapat kalimat pembuka yang tepat.

Berkali-kali kamu hapus rangkaian kata yang sudah diketik. Bahkan kamu sampai membuka catatan materi cara menulis headline untuk memicu ide.

Ya, memang menentukan kalimat pembuka content writing itu sulit. Tapi jangan sampai kamu mempersulit diri sendiri dengan menuntutnya untuk menjadi sempurna.

Kamu sudah mengetik banyak rangkaian kata lalu membatin, “ah, kayaknya kalau kalimat awalnya gini nggak banget deh!”

Waktumu akan terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan kalimat pembukaan tulisan saja. Padahal yang kamu butuhkan hanya ‘tulis aja dulu’ lalu edit setelah selesai menulis.

Fokus saja dengan outline yang sudah dibuat, dan terus menulis. Jangan beri kesempatan otak editormu men-judge artikelmu sebelum kamu selesai menulis.

Jadi, gak perlu terlalu perfeksionis apalagi masih tahap awal latihan menulis. Ikuti saja langkah-langkah cara menulis yang sudah kamu pelajari dan lakukan sesuai kemampuan.

Toh pada umumnya langkah awal cara menulis yang utama adalah membiasakan menulis secara rutin.

Baca juga: 5 Panduan Belajar Content Writing secara Praktis!

 

#5. Kurang Confident

Kamu tertarik untuk mencari ilmu seputar cara menulis yang baik, tapi ketika sudah membaca dan hendak praktik kamu malah merendahkan kemampuan diri.

Kamu membatin, “Kayaknya cara ini susah aku ikutin, deh! Aku gak bisa menulis rutin seperti itu.”

Hati-hati dengan sikap mental block seperti ini. Kamu tidak akan tahu batas kemampuan sebelum mulai mencoba dan berkali-kali praktik.

Tapi ketika kamu berpikir ‘tidak bisa’, justru itu yang akan tertanam di pikiranmu, apa pun akan terlihat sulit dilakukan.

Jadi, harus gimana dong?

Kamu hanya perlu melakukannya saja dulu, jangan banyak berpikir mampu atau tidak mampu. Hanya lakukan semaksimal mungkin.

Manfaatkan tiap kesempatan yang ada untuk terus belajar cara menulis sesuai kebutuhan. Bisa dengan membeli e-book panduan penulis, ikut zoominar content writing berbayar, hingga online course copywriting.

Kesempatan akan selalu datang kepada orang-orang yang mau berusaha dan belajar. Tidak masalah saat ini kamu tidak bisa atau belum tahu ilmu cara menulis, tapi kamu harus percaya bahwa kamu bisa mempelajarinya sekarang.

Baca juga: Menjadi Koki Kata di Dapur Penulis (Sebuah Analogi)

Itu dia beberapa hambatan menulis dan cara menghadapinya. Hal di atas pastinya tidak hanya dialami oleh penulis pemula saja.

Karena penulis-penulis senior dan profesional pun acap kali merasakan hal serupa. Terus belajar cara menulis berbagai versi adalah cara paling ampuh meloncati hambatan menulis.

Oh iya, kalau kamu punya pendapat lain dan mau berbagi cerita bagaimana caramu menghadapi hambatan menulis boleh share ya di kolom komentar, ya.

 

Kesimpulan

Setiap penulis pasti punya hambatan masing-masing, tetapi dengan mengenal diri lebih jauh bisa membantu untuk menguasai dan mengendalikan hambatan itu.

Selain menerima dan mengakui hambatan, terus berlatih dan belajar cara menulis adalah cara terbaik untuk menjinakkan hambatan itu, sehingga skill dan produktifitasmu terus naik.

 

Sumber gambar: https://images.pexels.com/
Find me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *